Rabu, 10 November 2010

MENYUSURI PERJALANAN BANGSA DI HARI PAHLAWAN


Cerita tentang pahlawan adalah kisah tentang tragedi pergulatan hidup dan pengorbanan. Sejatinya keberadaan pahlawan adalah karena adanya pengorbanan yang sering kali berujung ‘tragis’. Dalam kaca mata teoritis, pengorbanan dapat diartikan sebagai pemberian yang menjadi milik seseorang untuk kepentingan atau kebutuhan pihak atau orang lain. Pengorbanan berkelindan dengan sisi terdalam manusia, yaitu berbagi. Dalam tulisan waktu masih mudanya Karl Marx menggambarkan bahwa salah satu sifat manusia yang berkaitan dengan eksistensinya adalah keinginan untuk memberi. Konteksnya adalah kerelaan hati. Dengan demikian pengorbanan bisa dimaknai sebagai sebuah kerelaan untuk memberi atau berbagi dengan orang atau pihak lain sebagai wujud keberadaan atau eksistensi kemanusiaan. Pengorbanan juga mensyiratkan kebahagiaan di dalamnya. Bukankah ketika orang tua berkorban untuk anaknya selalu berakhir dengan perasaan bahagia, atau ketika kita mampu membantu orang lain seringkali kita merasa bahwa kita merasa ada –eksis --  dan diperlukan orang lain.

Apabila dilihat secara sepintas lalu, pengorbanan memang terlihat merugi, karena terjadi pengurangan dalam hal kepemilikan baik itu berupa materi, pengaruh, energi, atau waktu. Dalam sisi kapitalistik pengorbanan adalah reduksi kepemilikan (privatisasi) karena tidak mendatangkan nilai lebih. Maka seyogyanya tiada pengorbanan dalam teori liberalis-kapitalistik, kecuali yang dikorbankan itu hanya umpan dalam meraih target yang lebih besar. Oleh karena itu kalaupun ada pengorbanan dalam sisi kapitalistik akan terlihat semu, sehingga jauh dari kehendak tanpa pamrih. Maka wajar pada jaman sekarang ini sangat susah untuk memberi label pahlawan karena pada dasarnya banyak orang yang berkorban tetapi penuh dengan interest pribadi. Pahlawan pada akhirnya adalah manusia luhur yang membaktikan hidupnya untuk kebaikan sesama, membagi dirinya menjadi beberapa dimensi kecil yang bermanfaat buat orang lain meskipun harus merelakan bagian – bagian dari dirinya hilang dan tersakiti. Inilah letak tragisnya. Melalui proses hitoris, heorisme kepahlawanan ditunjukan dengan sangat baik oleh suatu peristiwa tanggal 10 November 1945, sekitar 65 tahun silam.

Tanggal 10 November disepakati secara nasional sebagai hari pahlawan. Hari itu tanggal 10 November 1945, sebenarnya adalah deadline ultimatum dari pihak sekutu terhadap negara yang baru saja memproklamasikan diri sebagai negara merdeka  yang berdaulat agar mereka semua para pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas kepala. Ultimatum ini lahir karena memang sebelumnya selalu terjadi baku tembak yang berkelanjutan antara milisi (sipil yang dipersenjatai) dengan pihak sekutu yang membawahi tentara AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) dalam administrasi NICA yang sangat merepotkan mereka.

Segerombolan tentara NICA merupakan wakil dari negara – negara Eropa yang diutus untuk menyelesaikan masalah kepemilikan kekuasaan dan kedaulatan Indonesia pasca Perang Dunia II. Tentu saja NICA tidak mengakui keberadaan negara baru tersebut. Dan dari sinilah masalah terus timbul yang kemudian memanas setelah terjadinya peristiwa pembunuhan pada tanggal 30 Oktober 1945 terhadap Brigadir Jenderal Aubertin Walter Sothern (A.W.S.) Mallaby ketika mobil Buick yang ditumpanginya berpapasan dengan sekelompok milisi Indonesia ketika akan melewati Jembatan Merah sewaktu mengadakan patroli. Brigjend Mallaby merupakan komandan Brigade 49 Divisi India dengan kekuatan sekitar 6.000 pasukan yang merupakan bagian dari Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI), pasukan Sekutu. Inilah titik puncak konflik ketegangan antara bangsa Indonesia dengan sekutu NICA menemukan jalannya.
Ultimatum tidak diindahkan rakyat, pemuda, pelajar, mahasiswa dan Tentara Kemananan Rakyat yang masih sangat sederhana. Akibatnya sekutu memborbardir surabaya dengan serangan dari darat, laut dan udara. Bom meriam, tembakan bedil silih berganti menyemburkan mesiu kematian, dan rakyat semua terlibat melawan, tidak hanya militer sederhana seperti TKR. Akibatnya banyak korban jiwa dikalangan rakyat sipil dan tentara dalam jumlah yang sangat banyak setidaknya ada 6000 yang telah gugur sebagai pahlawan pada waktu itu.

Tidak ada yang mau di jajah, apalagi setelah secara politik termanifesto dalam rangkaian pidato proklamasi yang di sampaikan oleh Bung Karno berserta Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945, bahwa kita adalah negara merdeka. Ini bukan hanya masalah penderitaan akibat penjajahan, lebih dari itu ini adalah reaksi atas harga diri, keberadaan diri sebagai bangsa yang memiliki eksistensi yang di lecehkan oleh bangsa lain. Suatu reaksi atas penghinaan dari bangsa lain yang kurang ajar.

Peristiwa 10 November memberi gambaran bagaimana para rakyat dan terutama kaum pemuda berjuang dengan peralatan ala kadarnya melawan derap sepatu serdadu yang terlatih untuk membunuh dan menghancurkan apa saja yang harus dihancurkan. Tidak ada manusia yang tidak merasa takut akan kematian yang disengaja, kecuali sedang dalam frustasi akut atau itu merupakan suatu perjuangan menegakan prinsip keyakinan, menjadi pasukan berani mati salah satunya. 10 November memberikan jawabanya bahwa mati mungkin lebih baik untuk kehidupan yang merdeka dari pada terus hidup dengan keadaan terhina. Pengorbanan para rakyat indonesia terutama pemudanya pada 10 November 65 tahun silam layak dijadikan standar untuk menilai kriteria kepahlawanan manusia. Berkorban nyawa demi kepentingan orang lain (baca:bangsa) tanpa mempedulikan resiko akan dirinya sendiri jelas suatu sikap yang layak diapresiasi dengan nilai yang tinggi, yaitu sebuah pengakuan akan kepahlawanan. Pengorbanan yang tanpa pamrih untuk kepentingan bangsa.
Peristiwa 10 November 1945 telah lewat bersama perjalanan bangsa, dan bangsa kita sekarang menikmat hasil perjuangan mereka. Lalu apa yang tersisa?!. Bagaimanakah kita semua meneladani kepahlawanan para leluhur kita? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang jawabanya bias, abu-abu.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa dibeberapa wilayah di Indonesia banyak orang merasa bahwa hidup bersama sebagai sebuah bangsa dan negara Indonesia bukanlah suatu yang nyaman. Eksistensi, kesejahteraan dan keadilan sebagai manusia yang memiliki hak-hak dasar sama antar manusia yang ketika zaman penjajahan diperjuangkan telah tereduksi bukan oleh penjajah asing, melainkan oleh saudara sebangsa sendiri.

Dibeberapa wilayah terjadi gerakan – gerakan perlawanan yang berkelanjutan menggugat eksistensi negara republik ini. Mereka menggugat negara karena disinyalir para pengelolanya – politisi, birokrasi dan pemerintah – telah menciderai semangat kepahlawanan, yaitu semangat yang luhur akan kehidupan yang berkualitas sebagai manusia. Kehidupan tanpa penindasan, tanpa diskriminasi yaitu kehidupan yang penuh keadilan dan kemakmuran bersama sebagai satu bangsa dan negara.
Kasus separatisme seperti di Aceh, Maluku, Papua bahkan Timor Leste dahulu adalah bentuk – bentuk gerakan yang mengindikasikan kegerahan ketika hidup dalam dekapan ibu pertiwi Indonesia. Belum lagi sempalan – sempalan gerakan yang berdiri di atas ideologi tertentu sebagai pedoman gerakan, misalnya saja gerakan kelompok yang ingin mendirikan negara Islam atau negara berhaluan komunis yang secara laten bergerak untuk merubah wajah bangsa dan negara ini. Situasi ini adalah perkara yang real, yang sejatinya bersumber dari ketidakpuasaan. Persis ketika para pahlawan kita dahulu tidak puas dengan pemerintah asing (baca:penjajah) yang memerintah di bumi pertiwi ini. Mereka bergerak, menuntut dan melawan.
Sekarang apa yang tersisa dari peritiwa heroik 10 November 45 hanyalah cerita laksana dongeng masa lalu yang seolah-olah kejadian itu tidak pernah ada. Spirit pengorbanan dan kehendak untuk berbagi dengan orang lain tidak pernah ditemukan setelah peristiwa itu. Nilai – nilai kepahlawanan 10 November menguap keudara, kalaupun masih ada lebih terlihat formalitas belaka melalui kegiatan – kegiatan seremonial yang hampir kosong nilai substansinya. Ini penyakit, dan sudah cukup parah. Dan penyakit ini menjakiti semuanya tanpa pandang bulu. Mulai dari jajaran top elite, midle sampai masyarakat biasa. Penyakit ini saya namakan kelupaan sejarah. Kita semua hampir lupa bahwa hidup tidak pernah a historis, keberadaan kita hari ini karena sebelumnya memang telah ada sebelum kita. Kelupaan sejarah berdampak pada tidak adanya rasa cinta masyarakat kita pada masa lampau, tidak ikut merasakan apa yang disebut penghayatan sejarah (enlive), yang ujungnya hilangnya kesadaran sejarah (historical conscicousness) dan kepekaan terhadap sejarah (sense of history). Para pemimpin kita lebih mementingkan pribadi dan kroninya, sementara kaum terpelajar seolah belajar dimenara gading, dan rakyat kebanyakan tidak pernah paham bener tentang masalalunya. Padahal seandainya saja para pemimpin sadar akan sejarah tentu dia akan meneladani sifat – sifat kepahlawanan leluhurnya. Mereka tentu saja akan rela untuk berbagi dan berkorban, bukan hanya dengan kroninya saja tetapi terutama dengan masyarakat kebanyakan. Sementara itu Kaum intelektual sekarang sibuk dengan urusan ilmiah yang berjarak, bahkan para sejarawan yang kadang berperan ganda sebagai pengorder pesanan tulisan, makanya wajar kalau kemudian masyarakat umum dibuat pusing dengan sejarah. Alih-alih belajar dari sejarah yang ada malah merasa tertipu dengan sejarah.
Negara ini mesti diobati agar permasalahan kebangsaan dapat teratasi. Penyakit itu harus disembuhkan. Fakta bahwa tulang punggung gerakan separatisme baik di Maluku, Papua, Aceh dan Timor Leste dahulu atau gerakan – gerakan ideologis non pancasila di lakukan oleh kaum pemuda menunjukan betapa generasi muda kita tidak sadar akan sejarah. Sebagian pemuda kita berada dalam titik balik yang kontras dengan para pemuda dahulu yang sekarang menjadi pahlawan. Fakta bahwa para pemuda kita banyak yang tidak memahami bagaimana kaum pemuda terdahalu begitu susah mendirikan republik ini, sekarang setalah ada mereka malah bersusah payah ingin menghancurkannya. Mungkin hal ini terjadi karena ketidak puasan sosial-politik-ekonomi bahkan agama yang terjadi akibat salah urus pemimpinnya dalam hal pembagian distribusi keadilan karena terlalu berat sebelah, maka sudah sewajarnya para pemimpin itu kemudian diingatkan bahwa hakikat keberadaan negara ini dibangun oleh para pahlawan,,yaitu orang-orang yang hidupnya penuh dengan pengorbanan dan terbiasa berbagi untuk kepentingan orang lain yang lebih banyak.

Sejarah harus berfungsi, merupakan alternatif jawaban perbaikan bangsa ini. Sejarah harus memberikan pilihan sikap dan kebijakan yang tepat. Oleh karena itu harus ada usaha yang sungguh-sungguh untuk mengembalikan fungsi sejarah (refungsional historis). Harus ada design nasional historical conscicousness untuk menumbuhkan kepekaan terhadap nilai-nilai luhur sejarah yang terinternalisasi dalam diri setiap kita anak bangsa. Sejarah bukan hanya cerita masa lalu yang memfosil dan harus di simpan dalam museum kenangan, tapi sejarah menjadi satu dalam struktur kesadaran masyarakat yang terus hidup dan mempengaruhi pengetahuan dan sikapnya.

Akhirnya, menutup tulisan ini, saya ingin mengingatkan bahwa bersatunya bangsa ini karena memiliki ikatan historis. Sejarah mengajarkan kepada kita yang plural ini untuk terus berbagi dalam kebinekaan, saling memberi, menolong, dan menghargai. Jangan pernah mengkhianati sejarah, karena keutuhan bangsa ini taruhannya. Mengutip Asvi Warman Adam dalam optimismenya, bahwa sejarah dapat memberikan sesuatu buat bangsa ini, berbagai pelajaran dapat diambil dari masa lalu dan skenario masa depan bangsa bisa direncanakan berdasarkan sudut pandang sejarah.
Selamat hari Pahlawan
Dari Sahabat:
Suparman Arif
Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar