Sabtu, 13 November 2010

Untuk apa kita hidup?

Segala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, Yang Merajai pada hari pembalasan. Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi akhir zaman, da’i yang menunjukkan kepada jalan yang lurus, yang menerangkan kepada umat manusia wahyu yang diturunkan kepada mereka, dan sosok teladan terbaik bagi segenap umat manusia. Amma ba’du.
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Hai umat manusia sembahlah Rabb kalian, Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian supaya kalian bertakwa.” (QS. al-Baqarah : 21). Beribadah kepada Allah merupakan sebuah amanah agung yang diletakkan di atas pundak segenap keturunan Adam alaihis salam dan juga saudara-saudara mereka dari bangsa jin. Inilah kewajiban terbesar umat manusia yang harus mereka tunaikan kepada Rabb mereka. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. ad-Dzariyat : 56). Allah ta’ala memerintah dan melarang (yang artinya), “Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.” (QS. an-Nisaa’ : 36).

Apa yang dimaksud dengan ibadah?
Setiap muslim yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tentu mengetahui hal ini; bahwa mereka hidup adalah untuk beribadah kepada Allah semata. Namun, banyak orang yang terjerumus dalam kekeliruan dalam memaknai ibadah di dalam kehidupan mereka. Sebagian orang menganggap bahwa ibadah hanya terkait dengan urusan masjid dan ibadah ritual belaka. Sebagian lagi memandang bahwa ibadah yang lebih penting adalah menjalin hubungan baik dengan sesama manusia tanpa memperdulikan agama mereka. Sebagian lagi memandang bahwa ibadah yang paling penting saat ini adalah terjun di dalam pertarungan di panggung politik untuk mendapatkan kekuasaan bagi kemenangan kaum muslimin.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah telah menerangkan hakikat ibadah ini dalam salah satu karyanya al-’Ubudiyah bahwa ibadah merupakan istilah yang mencakup segala hal yang dicintai dan diridhai oleh Allah, berupa ucapan maupun perbuatan, yang tampak maupun yang tidak. Sebagian ulama lainnya mengungkapkan bahwa ibadah ialah menaati Allah dengan melakukan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang. Ibadah dibangun di atas dua pondasi utama; yaitu pengagungan kepada Allah dan kecintaan kepada-Nya. Segala bentuk ibadah tidak akan diterima kecuali apabila murni untuk Allah dan dilakukan dengan mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibadah seperti itulah yang akan mengantarkan seorang muslim berjumpa dengan Rabbnya dengan penuh suka cita. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang berharap untuk berjumpa dengan Rabbnya, hendaklah dia beramal salih dan tidak mempersekutukan Rabbnya dengan apa pun dalam beribadah kepada-Nya.” (QS. al-Kahfi : 110).

Amal salih, bekal mengarungi kehidupan
Banyak orang mengira bahwa dengan harta dan jabatan maka seorang akan bisa hidup dengan penuh kenikmatan di alam dunia ini. Oleh sebab itu mereka mengejar-ngejar dunia bahkan lebih mengutamakannya daripada mengejar akhirat. Padahal, kita sama-sama tahu bahwa dunia ini hanyalah sementara. Hari ini kita masih bernafas, boleh jadi esok atau lusa tubuh kita sudah bermandikan tanah alias mati. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Setiap jiwa pasti merasakan kematian, sesungguhnya pahala atas amal-amal kalian hanya akan disempurnakan pada hari kiamat kelak. Barangsiapa yang dibebaskan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh dia telah beruntung, sedangkan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Ali Imran : 185). Allah juga berfirman (yang artinya), “Tidaklah kehidupan dunia ini melainkan sekedar permainan dan kesia-siaan, dan sungguh negeri akhirat itu pasti lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, mengapa kalian tidak mau memikirkan?” (QS. al-An’aam : 32).
Hanya dengan iman dan amal salih seorang manusia bisa merasakan kebahagiaan yang sejati. Kebahagiaan yang tidak hanya berlangsung sesaat di muka bumi, akan tetapi terus berlanjut hingga di negeri akhirat nanti. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Ketahuilah, sesungguhnya para wali Allah itu tidak akan merasa takut dan tidak pula merasa sedih; yaitu orang-orang yang beriman dan senantiasa menjaga ketakwaan. Bagi mereka kabar gembira di dalam kehidupan dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan terhadap ketetapan Allah, itulah kemenangan yang sangat besar.” (QS. Yunus : 10). Barangsiapa yang menjadikan kesenangan dunia sebagai puncak cita-cita dan angan-angan hidupnya maka Allah akan berikan itu semua kepada mereka, dan di akhirat mereka tidak akan mendapatkan apa-apa selain siksa. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang mengingkan kehidupan dunia beserta perhiasannya, maka Kami akan sempurnakan bagi mereka balasan atas amal mereka di dunia dan mereka sama sekali tidak dirugikan, mereka itulah orang-orang yang tidak memperoleh bagian di akhirat melainkan neraka, dan lenyaplah sudah apa yang mereka perbuat dan sia-sialah amal yang mereka lakukan di sana.” (QS. Huud : 15).

Hanya orang beriman sajalah yang kokoh
Cobaan hidup merupakan perkara yang wajar dan pasti dirasakan oleh umat manusia. Sakit dan sehat, miskin dan kaya, susah dan senang, sedih dan gembira, sempit dan lapang, merupakan bagian dari pernik hidup yang memaksa manusia untuk menentukan sikap dalam menyikapi semuanya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “(Allah) Yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian, siapakah di antara kalian yang terbaik amalnya.” (QS. al-Mulk : 2). Ketika umat manusia mencoba berpaling dari tuntunan Rabb mereka dalam mengatasi problematika hidup ini maka manusia akan sengsara. Sebaliknya, apabila mereka mau taat dan tunduk kepada syari’at Rabb mereka maka kesejatian hidup dan ketenangan dalam menerima cobaan akan senantiasa mereka dapatkan. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Allah akan memberikan keteguhan kepada orang-orang yang beriman dengan ucapan yang kokoh di dalam kehidupan dunia dan di akhirat…” (QS. Ibrahim : 27). Allah juga berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman (syirik) maka mereka itu sajalah yang akan mendapatkan keamanan dan mereka itulah orang-orang yang benar-benar mendapat petunjuk.” (QS. al-An’aam : 82).
Hanya ada satu jalan!
Setiap orang menyangka bahwa apa yang mereka yakini adalah kebenaran dan setiap golongan merasa bahwa keberuntungan ada di pihak mereka, namun semua dakwaan membutuhkan pembuktian. Hanya ada satu jalan menuju keselamatan dan kebahagiaan yang sejati di dunia dan di akhirat. Itulah jalan yang setiap kali sholat diminta oleh seorang mukmin kepada Rabbnya, “Ya Allah tunjukilah kepada kami jalan yang lurus.” Inilah jalan yang mengantarkan para nabi, orang-orang yang shiddiq, para pejuang yang mati syahid serta orang-orang salih. Sebuah jalan yang telah ditetapkan oleh Rabbul ‘alamin. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah pantas bagi seorang beriman, laki-laki maupun perempuan, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara kemudian masih ada bagi mereka pilihan yang lain bagi urusan mereka. Barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah sesat dengan kesesatan yang amat nyata.” (QS. al-Ahzab : 36).
Bahkan Allah menafikan keimanan dari diri orang-orang yang tidak mau melapangkan dadanya menerima keputusan utusan ar-Rahman al-Hakim. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka demi Rabbmu, sekali-kali mereka tidaklah beriman sampai mereka menjadikan engkau (wahai Muhammad) sebagai hakim atas segala perselisihan yang terjadi di antara mereka kemudian mereka tidak menemui di dalam hati mereka rasa sempit atas apa yang kamu tetapkan dan mereka pun menerimanya dengan sepenuh hati.” (QS. an-Nisaa’ : 65). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya inilah jalanku yang lurus, maka ikutilah ia dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan yang lain karena hal itu akan mencerai-beraikan dari jalan-Nya. Itulah yang diwasiatkan kepada kalian agar kalian bertakwa.” (QS. al-An’aam : 153). Inilah jalannya kaum Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti perjalanan hidup mereka di dalam hal aqidah, akhlak, ibadah, maupun mu’amalah dengan baik dan benar. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang terlebih dulu dan pertama-tama berjasa kepada Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar, demikian juga orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya, dan Allah siapkan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang sangat besar.” (QS. at-Taubah : 100). Maka barangsiapa yang menyimpang dari jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan merugi di dunia dan di akhirat. Mereka mengira telah melakukan sesuatu yang terbaik, namun sebenarnya amal mereka sia-sia. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah (hai Muhammad); Maukah aku kabarkan kepada kalian mengenai oranag-orang yang paling merugi amalnya, yaitu orang-orang yang sia-sia usahanyaa di dunia sementara mereka mengira telah melakukan yang terbaik.” (QS. al-Kahfi : 103-104).
Jauhilah sang pemusnah kebahagiaan!
Tatkala seorang hamba menyadari bahwa perjalanannya menuju Rabbnya merupakan perjalanan yang dipenuhi dengan onak dan duri di kanan dan kiri jalan ini. Tatkala dia mengerti bahwa untuk mendapatkan kenikmatan surga yang abadi dibutuhkan perjuangan dan ketabahan dalam menghadapi ujian yang bertubi-tubi. Maka ketika itulah seorang mukmin harus berupaya keras untuk menjaga mutiara keimanan dan modal kebahagiaan yang ada di dalam dirinya. Hanya hamba-hamba bertauhid sajalah yang dapat menjaga dirinya dari terseret ke dalam ombak syirik dan kekafiran. Sebuah ombak dahsyat dan angin topan yang sangat kencang yang akan menyeret orang-orang yang ragu dan menyimpan kekafiran ke dalam jurang neraka Jahannam. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang menentang Rasul setelah petunjuk jelas baginya dan dia justru mengikuti selain jalan orang-orang yang beriman, maka Kami akan biarkan dia terombang-ambing di dalam kesesatannya dan kelak Kami akan memasukkannya ke dalam Jahannam, dan sesungguhnya Jahannam itu adalah sejelek-jelek tempat kembali.” (QS. an-Nisaa’ : 115).
Sedangkan perkara paling pokok yang membuat mereka yang menginginkan kebaikan namun tidak mendapatkannya itu adalah kesyirikan yang membuat pelakunya tidak lagi diampuni dosa-dosanya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya dan dia akan mengampuni dosa lain di bawahnya bagi orang-orang yang dikehendaki-Nya.” (QS. an-Nisaa’ : 116). Inilah faktor utama yang akan menendang barisan kaum pecundang ke dalam gerombolan tentara Iblis yang bersama-sama bahu membahu untuk menjerumuskan manusia ke dalam lembah kebinasaan. Inilah dosa syirik yang mengharamkan pelakunya untuk menikmati keindahan surga dan bidadari yang ada di sana. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka sungguh Allah haramkan baginya surga, dan tempat kembalinya adalah neraka, dan bagi orang-orang zalim itu tidak ada seorang penolongpun untuk mereka.” (QS. al-Maa’idah : 72). Allah ta’ala berfirman mengisahkan tentang kengerian di hari kiamat. ketika manusia bermusuhan satu sama lain, mereka yang diikuti berlepas diri dan membenci orang-orang yang mengikutinya dan mereka sama-sama melihat pedihnya azab, mereka yang dulunya saling bekerjasama di atas kebatilan pun saat itu harus merasakan penyesalan yang teramat dalam, “Pada hari itu orang-orang yang berteman dekat pun berubah menjadi musuh satu dengan yang lainnya, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. az-Zukhruf : 67).
Sang musyrik tidak akan mendapatkan apa yang dia dambakan
Ketahuilah saudaraku -semoga Allah merahmatimu- bahwa berbagai macam jalan dimanfaatkan oleh syaitan dan bala tentaranya untuk menyesatkan bani Adam. Oleh sebab itu wajib bagimu untuk mengenali dan menjauhi tipu daya dan makar mereka, agar engkau tidak ikut terseret hancur binasa sebagaimana mereka. Ingatlah bahwasanya hanya dengan tauhid yang benar seorang hamba akan menemukan kebahagiaan hidup yang dicita-citakannya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Seandainya para penduduk negeri itu beriman dan bertakwa niscaya Kami akan membukakan bagi mereka keberkahan dari langit dan bumi…” (QS. al-A’raaf : 96). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Demi masa, sesungguhnya semua orang benar-benar berada di dalam kerugia, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.” (QS. al-’Ashr : 1-3).
Maka kalau seorang manusia mengharapkan keselamatan dengan jimat yang dikenakannya, atau mengharapkan kebahagiaan dengan datang kepada dukun dan paranormal serta mempercayai ocehan mereka, yakinlah bahwasanya orang-orang yang bergantung kepada selain-Nya tidak akan mendapatkan apa-apa, bahkan hati mereka tersiksa karenanaya, dan yang lebih mengerikan adalah Allah meninggalkan mereka dan tidak mau peduli lagi dengan nasib mereka. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku maka baginya penghidupan yang sempit, dan kelak pada hari kiamat Kami akan mengumpulkannya dalam keadaan buta. Dia mengatakan; wahai Rabbku, mengapa kau bangkitkan aku dalam keadaan buta sementara dahulu aku bisa melihat. Allah menjawab; Demikianlah yang layak kamu dapatkan, dahulu datang kepadamu ayat-ayat-Kami tapi kemudian kamu melupakannya, maka sekarang pun kamu dilupakan.” (QS.Thaha : 124-126). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab dan orang-orang musyrik berada di dalam neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mereka itulah sejelek-jelek makhluk.” (QS. al-Bayyinah : 6).
Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba-hamba yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan membersihkan semua ketergantungan hati kita dari segala sesembahan selain-Nya. Yang dengan itulah maka hidup kita akan menjadi berarti, bukan sekedar membuat hidup menjadi lebih hidup, namun membuat orang benar-benar hidup. Itulah yang kita inginkan. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Asal Usul Manusia

Asal Usul Manusia
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat : Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud" (QS. Al Hijr (15) : 28-29)
Muqadimah
Diantara sekian banyak penemuan manusia dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedemikian canggih, masih ada satu permasalahan yang hingga kini belum mampu dijawab dan dijabarkan oleh manusia secara eksak dan ilmiah. Masalah itu ialah masalah tentang asal usul kejadian manusia. Banyak ahli ilmu pengetahuan mendukung teori evolusi yang mengatakan bahwa makhluk hidup (manusia) berasal dari makhluk yang mempunyai bentuk maupun kemampuan yang sederhana kemudian mengalami evolusi dan kemudian menjadi manusia seperti sekarang ini. Hal ini diperkuat dengan adanya penemuan-penemuan ilmiah berupa fosil seperti jenis Pitheccanthropus dan Meghanthropus.
Di lain puhak banyak ahli agama yang menentang adanya proses evolusi manusia tersebut. Hal ini didasarkan pada berita-berita dan informasi-informasi yang terdapat pada kitab suci masing-masing agama yang mengatakan bahwa Adam adalah manusia pertama. Yang menjadi pertanyaan adalah termasuk dalam golongan manakah Adam ? Apakah golongan fosil yang ditemukan tadi atau golongan yang lain ? Lalu bagaimanakah keterkaitannya ?
Asal Usul Manusia menurut Islam
Kita sebagai umat yang mengakui dan meyakini rukun iman yang enam, maka sudah sepantasnya kita mengakui bahwa Al Qur’an adalah satu-satunya literatur yang paling benar dan bersifat global bagi ilmu pengetahuan.
"Kitab (Al Qur’an) in tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib....." (QS. Al Baqarah (2) : 2-3)
Dengan memperhatikan ayat tersebut maka kita seharusnya tidak perlu berkecil hati menghadapi orang-orang yang menyangkal kebenaran keterangan mengenai asal usul manusia. Hal ini dikarenakan mereka tidak memiliki unsur utama yang dijelaskan dalam Al Qur’an yaitu Iman kepada yang Ghaib. Ini sebenarnya tampak pula dalam pernyataan-pernyataan yang dikeluarkan oleh mereka dalam menguraikan masalah tersebut yaitu selalu diawali dengan kata kemungkinan, diperkirakan, dsb. Jadi sebenarnya para ilmuwanpun ragu-ragu dengan apa yang mereka nyatakan.
Tahapan kejadian manusia :
a) Proses Kejadian Manusia Pertama (Adam)
Di dalam Al Qur’an dijelaskan bahwa Adam diciptakan oleh Allah dari tanah yang kering kemudian dibentuk oleh Allah dengan bentuk yang sebaik-baiknya. Setelah sempurna maka oleh Allah ditiupkan ruh kepadanya maka dia menjadi hidup. Hal ini ditegaskan oleh Allah di dalam firman-Nya :
"Yang membuat sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah". (QS. As Sajdah (32) : 7)
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk". (QS. Al Hijr (15) : 26)
Disamping itu Allah juga menjelaskan secara rinci tentang penciptaan manusia pertama itu dalah surat Al Hijr ayat 28 dan 29 . Di dalam sebuah Hadits Rasulullah saw bersabda :
"Sesunguhnya manusia itu berasal dari Adam dan Adam itu (diciptakan) dari tanah". (HR. Bukhari)
b) Proses Kejadian Manusia Kedua (Siti Hawa)
Pada dasarnya segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah di dunia ini selalu dalam keadaan berpasang-pasangan. Demikian halnya dengan manusia, Allah berkehendak menciptakan lawanjenisnya untuk dijadikan kawan hidup (isteri). Hal ini dijelaskan oleh Allah dalam salah sati firman-Nya :
"Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui" (QS. Yaasiin (36) : 36)
Adapun proses kejadian manusia kedua ini oleh Allah dijelaskan di dalam surat An Nisaa’ ayat 1 yaitu :
"Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya, dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang sangat banyak..." (QS. An Nisaa’ (4) : 1)
Di dalam salah satu Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dijelaskan :
"Maka sesungguhnya perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk Adam" (HR. Bukhari-Muslim)
Apabila kita amati proses kejadian manusia kedua ini, maka secara tak langsung hubungan manusia laki-laki dan perempuan melalui perkawinan adalah usaha untuk menyatukan kembali tulang rusuk yang telah dipisahkan dari tempat semula dalam bentuk yang lain. Dengan perkawinan itu maka akan lahirlah keturunan yang akan meneruskan generasinya.
c) Proses Kejadian Manusia Ketiga (semua keturunan Adam dan Hawa)
Kejadian manusia ketiga adalah kejadian semua keturunan Adam dan Hawa kecuali Nabi Isa a.s. Dalam proses ini disamping dapat ditinjau menurut Al Qur’an dan Al Hadits dapat pula ditinjau secara medis.
Di dalam Al Qur’an proses kejadian manusia secara biologis dejelaskan secara terperinci melalui firman-Nya :
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia itu dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kamudian Kami jadikan ia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah , Pencipta Yang Paling Baik." (QS. Al Mu’minuun (23) : 12-14).
Kemudian dalam salah satu hadits Rasulullah SAW bersabda :
"Telah bersabda Rasulullah SAW dan dialah yang benar dan dibenarkan. Sesungguhnya seorang diantara kamu dikumpulkannya pembentukannya (kejadiannya) dalam rahim ibunya (embrio) selama empat puluh hari. Kemudian selama itu pula (empat puluh hari) dijadikan segumpal darah. Kemudian selama itu pula (empat puluh hari) dijadikan sepotong daging. Kemudian diutuslah beberapa malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya (untuk menuliskan/menetapkan) empat kalimat (macam) : rezekinya, ajal (umurnya), amalnya, dan buruk baik (nasibnya)." (HR. Bukhari-Muslim)
Ungkapan ilmiah dari Al Qur’an dan Hadits 15 abad silam telah menjadi bahan penelitian bagi para ahli biologi untuk memperdalam ilmu tentang organ-organ jasad manusia. Selanjutnya yang dimaksud di dalam Al Qur’an dengan "saripati berasal dari tanah" sebagai substansi dasar kehidupan manusia adalah protein, sari-sari makanan yang kita makan yang semua berasal dan hidup dari tanah. Yang kemudian melalui proses metabolisme yang ada di dalam tubuh diantaranya menghasilkan hormon (sperma), kemudian hasil dari pernikahan (hubungan seksual), maka terjadilah pembauran antara sperma (lelaki) dan ovum (sel telur wanita) di dalam rahim. Kemudian berproses hingga mewujudkan bentuk manusia yang sempurna (seperti dijelaskan dalam ayat diatas).
Para ahli dari barat baru menemukan masalah pertumbuhan embrio secara bertahap pada tahun 1940 dan baru dibuktikan pada tahun 1955, tetapi dalam Al Qur’an dan Hadits yang diturunkan 15 abad lalu hal ini sudah tercantum. Ini sangat mengagumkan bagi salah seorang embriolog terkemuka dari Amerika yaitu Prof. Dr. Keith Moore, beliau mengatakan : "Saya takjub pada keakuratan ilmiyah pernyataan Al Qur’an yang diturunkan pada abad ke-7 M itu". Selain iti beliau juga mengatakan, "Dari ungkapan Al Qur’an dan hadits banyak mengilhami para scientist (ilmuwan) sekarang untuk mengetahui perkembangan hidup manusia yang diawali dengan sel tunggal (zygote) yang terbentuk ketika ovum (sel kelamin betina) dibuahi oleh sperma (sel kelamin jantan). Kesemuanya itu belum diketahui oleh Spalanzani sampai dengan eksperimennya pada abad ke-18, demikian pula ide tentang perkembangan yang dihasilkan dari perencanaan genetik dari kromosom zygote belum ditemukan sampai akhir abad ke-19. Tetapi jauh ebelumnya Al Qur’an telah menegaskan dari nutfah Dia (Allah) menciptakannya dan kemudian (hadits menjelaskan bahwa Allah) menentukan sifat-sifat dan nasibnya."
Sebagai bukti yang konkrit di dalam penelitian ilmu genetika (janin) bahwa selama embriyo berada di dalam kandungan ada tiga selubung yang menutupinya yaitu dinding abdomen (perut) ibu, dinding uterus (rahim), dan lapisan tipis amichirionic (kegelapan di dalam perut, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam selaput yang menutup/membungkus anak dalam rahim). Hal ini ternyata sangat cocok dengan apa yang dijelaskan oleh Allah di dalam Al Qur’an :
"...Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan (kegelapan dalam perut, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam selaput yang menutup anak dalam rahim)..." (QS. Az Zumar (39) : 6).

Kamis, 11 November 2010

contoh "SURAT KETERANGAN JUAL BELI TANAH SAWAH SEBELUM DI AKTAKAN"

KANTOR DESA MUARA
KECAMATAN WANASALAM KABUPATEN LEBAK


 

SURAT KETERANGAN JUAL BELI
TANAH SAWAH SEBELUM
DI AKTAKAN    
No :
Yang bertanda tangan dibawah ini kami masing-masing :
I.                                Nama              
TTL                
Pekerjaan        :
Alamat           
Selanjutnya disebut pihak pertama

II.                              Nama              
TTL                 :
Pekerjaan       :
Alamat           :
Selanjutnya disebut pihak kedua

Pada hari ini………….tanggal……….bualn …….tahun 201_. Pihak pertama menjual tanah sawah yang terletak di Blok ___________ Kp. ___________ Desa __________ seluas ___ Kotak (_____ M2) dengan harga Rp. ____________ (______________) __ Kotak (_____ M2) dengan harga Rp……………………adapun batas-batas sebagai berikut

Sebelah Utara      :
Sebelah Timur      :
Sebelah Selatan   :
Sebelah Barat      :              

Demikian surat keterangan ini dibuat dengan sebenar-benarnya dalam keadaan sehat jasmani dan rohani serta tidak ada unsur paksaan baik dari pihak manapun


Muara ,..........................................
         Pihak Pertama                                                                                                                            Pihak Kedua                                                                                                                                                  












Mengetahui
Kepala desa suka mulya







                          

                                                                                                                                                                                                                    

Contoh Surat Kuasa

MADRASAH IBTIDAIYAH AN-NAHL



DARUNNAJAH V
Jln Raya Cikareo-Mantiung Km 04 Kp.Ciseureuh Ds.Tanjungan Kec.Cikeusik Kab.Pandeglang Banten
 

SURAT KUASA
    No : 01/SK MI An-Nahl/VIII/2010

Yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama                           : Muhamad Shodiq, S.Pd.I
Tempat Tanggal Lahir   : Semarang 16-01-1983
Alamat                         : Kp.Ciseureuh 01/04 Ds.Tanjungan Kec.Cikeusik Kab.Pandeglang
Jabatan                        : Kepada Madrasah MI An-Nahl

Selaku Pemberi kuasa Penuh kepada  :

Nama                           : M.Tohir
Tempat Tanggal Lahir   : Pandeglang 18-04-1988
Alamat                         : Kp.Ciseureuh 01/04 Ds.Tanjungan Kec.Cikeusik Kab.Pandeglang
Jabatan                        : Bendahara Madrasah MI An-Nahl

Untuk  mengambil Uang  BOS MI An-Nahl di Bank BRI  dengan nomor rekening  : 4816-01-004669-53-4  nominal uang Sebesar  4.000.000 (Empat juta  rupiah) untuk keperluan Madrasah Ibtidaiyah An-Nahl .

Demikian surat kuasa ini dibuat  dengan sebenar benarnya tanpa ada unsur paksaan dari manapun dan dalam keadaan sehat jasmani dan rohani,dan surat kuasa ini berlaku hanya untuk sekali pengambilan.

   Ciseureuh 30 Agustus 2010



Mengetahui  :
Kepala Madrasah Mi An-Nahl




   Muhamad Shodiq, S.Pd.I